
Jakarta, 18-05-2026 (HUMAS MAN 3 Jakarta Pusat) — MAN 3 Jakarta Pusat menyelenggarakan kegiatan Literasi Budaya yang berlangsung di lapangan madrasah mulai pukul 06.45 WIB hingga selesai. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh peserta didik dengan penuh antusias dan dipandu oleh petugas dari kelas 10.4.

Pelaksanaan kegiatan turut didampingi oleh seluruh GTK MAN 3 Jakarta Pusat. Bahkan, Kepala MAN 3 Jakarta Pusat juga hadir secara langsung untuk mendampingi serta memantau jalannya kegiatan sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan pendidikan karakter dan kesehatan peserta didik di lingkungan madrasah.

Kegiatan literasi budaya kali ini menghadirkan pemateri dari Puskesmas Kecamatan Cempaka Putih dengan tiga materi utama yang berkaitan erat dengan kehidupan remaja masa kini, yakni kesehatan fisik, pendidikan reproduksi, dan kesehatan mental.
Materi pertama disampaikan oleh Alief Chansa Fitria Susilo, A.Md. Kep., yang membahas tentang anemia dan pentingnya mengonsumsi tablet penambah darah khususnya bagi siswi di lingkungan MAN 3 Jakarta Pusat. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa anemia merupakan kondisi ketika tubuh mengalami kekurangan sel darah merah atau hemoglobin sehingga menyebabkan tubuh mudah lelah, lemas, sulit berkonsentrasi, hingga menurunkan produktivitas belajar.

Menurutnya, remaja putri termasuk kelompok yang rentan mengalami anemia karena mengalami menstruasi setiap bulan. Oleh sebab itu, pemenuhan zat besi menjadi hal yang sangat penting agar kesehatan tubuh tetap terjaga. Ia juga menekankan bahwa anemia tidak boleh dianggap sepele karena dapat memengaruhi kualitas hidup dan prestasi belajar peserta didik.

“Banyak remaja yang merasa cepat lelah, mengantuk saat belajar, atau sulit fokus di kelas tanpa menyadari bahwa hal tersebut bisa menjadi gejala anemia. Karena itu, konsumsi tablet tambah darah secara rutin sangat penting untuk membantu memenuhi kebutuhan zat besi dalam tubuh,” jelas Alief di hadapan peserta kegiatan.
Setelah materi pertama selesai, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi kedua mengenai pendidikan reproduksi oleh Taufik Nugraha, A.Md. Kep. Materi ini menjadi salah satu sesi yang paling menarik perhatian peserta didik karena membahas berbagai persoalan remaja yang relevan dengan perkembangan zaman.

Dalam pemaparannya, Taufik Nugraha menjelaskan bahwa pendidikan reproduksi merupakan pengetahuan penting yang harus dipahami oleh remaja agar mampu menjaga kesehatan diri dan memahami perubahan fisik maupun emosional selama masa pubertas.
Ia menjelaskan bahwa pendidikan reproduksi bertujuan memberikan pemahaman yang benar mengenai kesehatan reproduksi, menjaga kebersihan diri, memahami batasan dalam pergaulan, serta membangun hubungan sosial yang sehat.

“Remaja harus memiliki pengetahuan yang benar tentang kesehatan reproduksi agar tidak mudah terpengaruh informasi yang salah dari media sosial maupun lingkungan sekitar,” ungkapnya.
Kegiatan literasi budaya kemudian dilanjutkan dengan materi ketiga mengenai P3LP atau Pertolongan Pertama Pada Luka Psikologis yang disampaikan oleh Atika Saraswati, M.Psi., Psikolog. Materi ini menjadi penutup sekaligus bagian yang sangat penting dalam kegiatan karena membahas kesehatan mental remaja yang saat ini menjadi perhatian berbagai pihak.

Dalam pemaparannya, Atika Saraswati menjelaskan bahwa luka psikologis dapat dialami siapa saja, termasuk peserta didik. Tekanan akademik, masalah keluarga, konflik pertemanan, hingga perundungan dapat memengaruhi kondisi mental seseorang apabila tidak ditangani dengan baik.
Ia menjelaskan bahwa pertolongan pertama pada luka psikologis merupakan langkah awal untuk membantu seseorang yang sedang mengalami tekanan emosional agar merasa lebih aman, didengar, dan mendapatkan dukungan yang tepat. Menurutnya, kepedulian terhadap kesehatan mental harus dibangun sejak dini agar peserta didik mampu mengenali dan mengelola emosinya dengan baik.

“Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Ketika seseorang merasa sedih berkepanjangan, kehilangan semangat, atau merasa tidak berharga, maka ia membutuhkan dukungan dan perhatian dari lingkungan sekitar,” jelas Atika Saraswati.
Kegiatan berlangsung interaktif karena pada setiap sesi materi terdapat tanya jawab antara pemateri dan peserta didik. Beberapa siswa terlihat aktif mengajukan pertanyaan mengenai anemia, kesehatan reproduksi, hingga cara menjaga kesehatan mental di tengah tekanan belajar dan pergaulan sosial.

Antusiasme peserta didik membuat suasana kegiatan menjadi hidup dan komunikatif. Para pemateri juga memberikan penjelasan secara rinci dan mudah dipahami sehingga peserta didik memperoleh wawasan baru yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari.
Setelah seluruh rangkaian literasi budaya selesai, kegiatan dilanjutkan dengan mengonsumsi MBG bersama-sama di lapangan MAN 3 Jakarta Pusat. Suasana kebersamaan tampak begitu hangat ketika para siswa duduk bersama menikmati MBG secara tertib dan penuh kekeluargaan.

Melalui kegiatan ini, MAN 3 Jakarta Pusat menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berfokus pada akademik, tetapi juga memperhatikan kesehatan fisik, kesehatan mental, dan pembentukan karakter peserta didik agar menjadi generasi yang sehat, cerdas, dan berakhlak baik.
