SEKILAS INFO
27-10-2020
  • 6 bulan yang lalu / Permohonan pengajuan nama domai id untuk man 3 jakarta
  • 6 bulan yang lalu / Perubahan alamat website man 3 jakarta adalah www.man3jkt.sch.id
2
Mei 2020
0
MENGENAL KI HADJAR DEWANTARA, BAPAK PENDIDIKAN NASIONAL INDONESIA

“Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Di Depan, Seorang Pendidik harus memberi Teladan atau Contoh Tindakan Yang Baik, Di tengah atau di antara Murid, Guru harus menciptakan prakarsa dan ide, Dari belakang Seorang Guru harus Memberikan dorongan dan Arahan.”

– Ki Hadjar Dewantara

Setiap Tanggal 2 Mei Bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional atau lebih dikenal dengan singkatan HARDIKNAS. Hari ini bertepatan dengan kelahiran sosok pejuang bangsa yaitu Ki Hadjar Dewantara yang tidak kenal lelah memperjuangkan nasib rakyat pribumi agar bisa memperoleh pendidikan yang layak.

Lahir di Yogyakarta pada Tanggal 2 Mei 1889 dengan nama asli Raden Mas Soewardi Soeryaningrat berasal dari keturunan keraton Yogyakarta. Beliau merupakan cucu dari Sri Paku Alam III.  Pada umur 40 tahun, beliau melepas gelar kerajaannya dari Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara. Tujuannya adalah supaya beliau dapat lebih dekat dengan masyarakat tanpa ada embel-embel simbol feodal didalam dirinya.

Pendidikan pertamanya didapat di lingkungan keluarga keraton Pakualaman yang sangat kental dengan seni dan sastra jawanya. Kemudian beliau melanjutkan jenjang pendidikannya ke Europeesche Lagere School (ELS) dan melanjutkan ke Sekolah Guru (kweekschool), namun ketika ada tawaran dari Dr Wahidin tentang beasiswa sekolah dokter di Jakarta, akhirnya Ki Hadjar Dewantara pindah ke School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA).

Ki Hadjar Dewantara sekolah di STOVIA selama 5 tahun, namun sayang beliau tak sampai lulus di STOVIA karena sakit selama 4 bulan yang membuatnya tidak naik kelas dan dicabut beasiswanya. Setelah keluar dari STOVIA, Ki Hadjar Dewantara bekerja sebagai wartawan di beberapa tempat yaitu Midden Java, Sedyotomo, Oetoesan Hindia,  De Express, Kaoem Moeda,  Tjahaja Timoer dan Poesara.

Ki Hadjar Dewantara bersama dengan Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo mendirikan Indische Partij. Ini adalah partai politik pertama di Indonesia yang sangat nasionalis dengan visi mencapai Indonesia merdeka. Selain itu, Ki Hadjar Dewantara juga aktif di Komite Bumi Putera. Komite ini menjadi tandingan Komite yang dibuat oleh Belanda yang akan merayakan kemerdekaan 100 tahun Belanda dari jajahan Prancis. Karena keresahan yang dirasakannya, Ki Hadjar Dewantara menulis sebuah artikel di surat kabar De Express yang berjudul Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda). Dalam tulisan tersebut beliau mengkritik Belanda yang akan merayakan kemerdekaan 100 tahunnya dengan penarik pajak besar kepada masyarakat pribumi. Setelah itu Ki Hadjar Dewantara mendapatkan hukuman internering (hukum buang) bersama dengan Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo. Cipto Mangunkusumo dibuang karena membela temannya dengan menulis di surat kabar yang berjudul “Satu Untuk Semua, Semua Untuk Satu”. Douwes Dekker menulis tentang pahlawan-pahlawan kita, Douwes Dekker menganggap kedua tokoh itu merupakan pahlawan-pahlawan melawan kolonial Belanda. Douwes Dekkerpun akhirnya ditangkap.

Ki Hadjar Dewantara dibuang ke Bangka, Cipto Mangunkusumo dibuang ke pulau Banda, dan Douwes Dekker dibuang ke Kupang. Karena negosiasi dengan kolonial Belanda, akhirnya ketiga tokoh ini dibuang ke negeri Belanda. Di Belanda, Ki Hadjar Dewantara mendapatkan hal-hal yang baru tentang teori pendidikan dan pengajaran. Ia kenal dengan gagasan-gagasan tokoh pendidikan dunia, seperti JJ Rousseau, Rabindranath Tagore, John Dewey, Montessori, dan Kerschenteiner.

Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa pada 3 Juli 1922. Tujuannya adalah pemerataan mengakses pendidikan dalam masyarakat. Sebelumnya hanya masyarakat tertentu yang mampu mengakses pendidikan formal, namun bagi masyarakat biasa tidak mampu untuk sekolah. Menurut Ki Hadjar Dewantara, sebelum bangsa ini merdeka, maka merdeka lah dulu rakyatnya. Salah satunya adalah dengan merdeka untuk memperoleh pendidikan yang layak.

Ki Hadjar Dewantara menkonsepsikan tri-sentra pendidikan sebagai landasan pendidikan bagi seorang anak. Tri sentra pendidikan menurut Ki Hadjar adalah keluarga, sekolah, dan alam pergerakan (lingkungan pergaulan). Sekolah bukanlah satu-satunya institusi yang bertanggungjawab atas kegagalan pendidikan anak, tapi ada faktor-faktor lain.

Dalam buku Karya Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan, beliau menyebutkan bahwa tiap-tiap orang jadi guru, tiap-tiap rumah jadi perguruan. Keluarga adalah sekolah yang pertama, ibu adalah pendidik yang utama. Artinya bahwa keluarga adalah agen sosialisasi primer yang didapatkan oleh seorang anak. Orang tua adalah pendidik yang paling utama. Jika seorang anak ingin mendapatkan watak dan karakter yang baik, semua berawal dari orang tua. Selanjutnya sekolah dan lingkungan masyarakat hanya menjadi alat untuk mengembangkan potensi yang dimiliki oleh seorang anak.

Salah satu Filosofi dan hasil karya Beliau seperti kutipan kalimat “Tut Wuri Hadayani” yang memiliki arti “di Belakang Memberikan Dorongan” makna dari kalimat ini dijadikan motto dan slogan pendidikan serta menjadi landasan dalam rangka memajukan pendidikan di tanah air.

Ki Hadjar Dewantara diangkat menjadi Menteri Pendidikan pada saat Kabinet Pertama Republik Indonesia. Beliau mendapat anugerah gelar Doktor kehormatan Doctor Honoris Causa, Dr.H.C.  dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pada Tahun 1957. Dan beliau wafat pada usia 70 tahun pada Tanggal 26 April 1959. Berkat usaha kerja keras dan jasanya dalam rangka merintis pendidikan di tanah air, beliau dinobatkan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia atas dasar Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 305 Tahun 1959 pada Tanggal 28 November 1959, dan hari kelahiran Beliau ditetapkan dijadikan sebagai Hari Pendidikan Nasional Indonesia. /sm

MARHABAN  YAA RAMADHAN
21 Apr 2020

MARHABAN YAA RAMADHAN

Data Sekolah

MAN 3 JAKARTA

NPSN : 60725001

Jl. Rawasari Selatan Komplek Perkantoran Rawa Kerbo Cempaka Putih, Jakarta Pusat
KEC. Cempaka Putih
KOTAMADYA. Jakarta Pusat
PROV. DKI Jakarta
KODE POS 10510

Agenda